Apakah Realitas Makhluk Halus Itu Realistis?

Apakah Realitas Makhluk Halus Itu Realistis?

Apakah setan atau dedemit atau makhluk halus lainnya ada? Bila ada apa buktinya atau apa bisa dibuktikan? Buktinya berupa apa? Kalau tidak ada bukti apakah kita bisa bilang tidak ada? Cuma khayalan semata? Pertanyaan seputar keberadaan makhluk halus ini lah yang telah mengubah paradigma saya setelah saya mengalami pelbagai hal aneh dalam hidup yang terkait dengan kemampuan kedua anak autis saya untuk menangkap hal-hal yang tidak tertangkap oleh indera orang normal. Bagi saya yang dibesarkan oleh orang tua yang mengenyam pendidikan jaman Belanda, setan atau makhluk halus merupakan khayal semata. Setiap kali saya cerita tentang makhlus halus, kata spontan yang muncul dari ayah saya adalah onmogelijk (atau tidak mungkin), dan bila saya masih meneruskannya, kata pamungkas yang diucapkan dengan nada tinggi adalah onzin atau nonsense. Wacana ini lah yang melekat di benak saya hingga saya menyaksikan secara langsung (hingga kini) kemampuan indera anak saya untuk mendeteksi keberadaan energi bernyawa atau makhluk halus, dan akibatnya paradigma saya pun berubah total.

Fenomena anak autis menutup telinganya merupakah hal yang lumrah, bukan hanya bisa dijumpai pada anak saya tetapi juga pada banyak anak autis lain yang memiliki indera pendengaran dengan daya jangkau yang jauh lebih jauh dari orang normal. Suara AC (air conditioner) yang sedang on pun yang bagi kita-kita terdengar biasa saja akan terdengar memekakkan bagi anak autis sehingga mereka terpaksa menutup telinganya. Ini lebih merupakan derita dibandingkan dengan kelebihan. Segala suara yang ada di seputarnya, termasuk suara jangkrik dan getaran bunyi halus dari makhlus halus, datang secara bersamaan, dan keserentakan aneka suara pada frekuensi yang bervariasi ini menyakitkan bagi James, anak pertama saya. Anak autis saya yang kedua, John, juga mengalami derita serupa tapi pada indera matanya. John mampu melihat yang saya tidak bisa lihat, sehingga dia akan memalingkan wajahnya bila melewati area tertentu. Dan mereka berdua pun mengalami sapaan dan usapan dari makhluk yang tidak kasat mata ini?

Apakah ini realitas yang realistis? Kejadian itu lah yang kami alami, dan karenanya keberadaan makhluk halus yang umumnya berada di luar jangkauan indera kita bukan lah khayalan atau fantasi semata meski orang lain berkata saya dan isteri tidak realistis. Tidak realistis artnya tidak bisa (sukar sekali) direalisasi, atau tidak sesuai dengan reality (realitas), tapi apakah realitas? Kita terbiasa mengartikan realitas sebagai keadaan atau sesuatu yang bisa ditangkap oleh indera kita atau sensory organs kita terlepas dari keterbatasan yang melekat pada indera kita. Kalau tertangkap oleh (panca) indera, kita menyebutnya masuk akal atau MAKE SENSE padahal daya jangkau indera kita dalam mendeteksi keberadaan sesuatu tentu amat terbatas, bahkan bisa kalah oleh hewan seperti elang (matanya), anjing (hidungnya), flipper, kelelawar, dll. Apa yang tak terjangkau oleh indera manusia pada umumnya kita sebut khayal atau tidak realistis, bahkan tidak ada. Begitu lah ilmuwan kita mendefinisikan realitas tapi apakah listrik, life force, angin, atau makhlus halus ada? Meski tidak terpantau oleh indera kita karena mereka halus sekali, keberadaan makhluk halus bisa kita rasakan dengan perasaan yang halus karena kita sendiri adalah makhlus halus yang beraga atau berbadan kasar.

Speak Your Mind

*